Agen Asuransi Itu (Aslinya) Pekerjaan Mulia

Sumber : cheeblo.deviantart.com

Statement di atas bisa di lacak balik pada konsep dasar Asuransi:

Bayangkan Anda dan 2 sahabat Anda berkumpul di rumah Anda, ditengah hangatnya suasana Hari Raya. Anda masing-masing punya usaha toko. Anda bertiga sedang membicarakan bagaimana Anda sangat menyayangi keluarga Anda masing-masing. Dan bagaimana Anda juga peduli terhadap keluarga 2 sahabat Anda yang berada di ruangan itu.

Anda sepakat “menabung” bersama setiap bulan. Hasil dari “tabungan” bersama ini akan diberikan kepada sahabat yang tokonya kebakaran, sehingga ia dan keluarganya tetap dapat hidup sejahtera. Anda dan 2 sahabat Anda sepakat bergotong-royong, saling menolong sahabat yang kelak terkena musibah.

Dalam Islam pun, praktek semacam ini sudah dikenal sejak dahulu. Praktek saling menolong ini dikenal dengan istilah ta’awun. Sedangkan “tabungan” bersama antar sahabat tadi dikenal dengan istilah tabarru.

Nah kembali ke judul tulisan ini. Pekerjaan seorang agen asuransi adalah mengajak seorang “sahabat” untuk berpartisipasi dalam sebuah “tabungan gotong-royong”. Ia mengajak “sahabat” tadi untuk melindungi diri dan keluarganya sendiri. Ia juga mengajak untuk turut serta berpartisipasi, saling menolong, dalam melindungi diri dan keluarga “sahabat-sahabat” lainnya. (Aslinya) mulia sekali bukan?

 

Kultwit: Apakah Bank Tempat Teraman Menyimpan Uang?

Berikut adalah arsip kultwit saya seputar tempat teraman menyimpan uang Anda di Indonesia. Penting banget sih mbahas ini? Iya, pengetahuan ini penting kalau-kalau resesi ekonomi di US, Eropa (dan juga China) sampai ke Indonesia. Kultwit ini sekaligus sebagai penguat argumen artikel Deposito is Dead : “Apakah memang, deposito dan tabungan Anda aman di Bank?” Yuk kita mulai :

  1. Kalau Anda menduga tabungan dan deposito di Bank itu paling aman, Anda salah. Emang Bank ga bisa bangkrut? Total ada 66 bank yang bangkrut krisis 1998 lalu.
  2. Istilahnya macem-macem: Bank Dalam Likuidasi (BDL), Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU), atau Bank Beku Operasi (BBO). Intinya: bangkrut.
  3. Dan ukuran ga menjamin keamanan loh. Buktinya Lehmann Brothers, Bear Sterns, dan Merrill Lynch aja bisa bubar
  4. Size doesn’t matter, rating doesn’t matter too. Namun, seberapa banyak suatu Bank terpapar ke aset-aset beresiko.
  5. Ok, ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kalau bank bangkrut. Tapi LPS pun juga punya banyak keterbatasan. Yuk kita bahas satu-satu.
  6. Pertama, dalam keadaan ekonomi baik, duit Anda bisa balik. Tapi dalam keadaan ekonomi baik, emang ada bank yang bangkrut?
  7. Dalam keadaan ekonomi resesi, bank bisa bangkrut. Bisa banget. Dan ga cuman satu atau dua. Semua bank bisa terancam bangkrut.
  8. Masih ingat kasus Bank Century – yang kalau tidak ditebus dampaknya “sistemik”. Itu padahal cuman bank kecil loh.
  9. Istilah sistemik disini mengacu pada efek gelombang kebangkrutannya ke bank-bank lain. Padahal ekonomi kita lagi baik loh.
  10. Hal itu terjadi karena bank-bank dan sistem finansial kita (dan dunia sebenernya), terkait erat satu sama lain.
  11. Dalam kondisi resesi, ga mungkin pemerintah bisa nebus 66 bank yang bangkrut. Duit dari mana?
  12. Kedua, nominal penjaminan LPS sudah diturunkan dari Rp 2 M ke Rp 500 juta saja per nama nasabah.
  13. Jangan bayangkan 500 juta akan keluar gitu aja. Masih ingat istilah BBKL dan BBO? Itu itungannya cuman “dibekukan” loh.
  14. LPS hanya akan mengganti uang bank berstatus BDL (Bank Dalam Likuidasi). “Dibekukan”? Oh tidak bisaaa.
  15. Jadi bisa saja, bank udah bubar, tapi statusnya hanya “dibekukan” oleh pemerintah. Nah loh? Gimana tuh duit Anda.
  16. Dalam kondisi resesi, untuk mencegah kebocoran dana penjaminan, tidak semua bank yang bangkrut akan dilabeli BDL.
  17. Untuk Bank yang “dibekukan”, duit Anda juga ikut “dibekukan”. Sampai jangka waktu yang belum pasti. Mau makan pake apa kita?
  18. Udah tau resesi, ekonomi sulit, butuh duit, eh tabungan dan deposito satu-satunya malah “dibekukan”. Sudah jatuh tertimpa tangga.
  19. Dan untuk Bank yang berhasil mendapat status BDL, duitnya pun ga keluar langsung. Dicicil cuy. Kayak Lapindo gitu.

Jadi dana tabungan dan deposito Anda yang sebenarnya “dijamin” itu sebenarnya ada embel-embelnya: “tergantung situasi” :D

Trus gimana dunk? Tempat mana yang paling aman buat naruh duit pas resesi. Stay tuned ya!

Kultwit : Bail-Out Mu Itu Palsu, Cyin!

Sumber : allrightmagazine.com

China akan menyelamatkan Italia yang diambang krisis. Membeli hutang-hutang busuknya. Saham seluruh dunia naik.

Menurut saya, hal ini adalah tindakan plg bodoh yang bs dilakukan oleh China : membawa krisis Eropa langsung ke jantung perekonomian Asia. Efeknya buat Indonesia apa? Kalau Eropa kolaps, China kolaps. China kolaps, efeknya ke kita besar bgt. Berapa barang Anda yang ‘Made in China’?

Harusnya negara-negara yang lagi sakit itu jangan disuntik narkoba dunk. Gak memecahkan masalah. Mereka harus niat bangkit sendiri. Naik turunnya ekonomi itu siklus alam. No goverment can stop the march of time, fool Mother Nature, or repeal the law of gravity.

Kata kunci utk menyelamatkan negara penuh hutang itu bukan “BAIL-OUT”. The one and only keyword is : “AUSTERITY” (baca: Tobat Maksiat). ”Bail-out” itu tidak pernah menyelesaikan masalah dan hanya menimbulkan Moral Hazard : “Ah, emang kenapa kalau gw jalannya ngawur? Maksiat? Sebodo amit. Santai aje. Nanti juga ada yang nolong.”. Plus, biasanya, setelah ditolong, mereka bukan tobat, tapi tambah nekat.

Yunani pun begitu. Maksiat mereka adalah : praktek akuntansi yang “kreatif”. Simsalabim. Tau-tau nambah digit di atas laporan. Dan lucunya : mereka memohon-mohon minjem uang dr Jerman. Untuk apa coba tebak? Bayar utang mereka ke Jerman juga #kemudianHening

Sehingga “bail-out” itu haram ya tweeps. Jadi, ingat lain kali kalau ada kejadian bail-out trus saham naik: Oh, itu palsu. Sungguh palsu.

Kultwit : Busuknya Rating Agency di Amerika

Sumber : ncrenegade.com

Anda tahu rating agency seperti Moody’s, S&P dan Fitch? Rating mereka membantu kita untuk tahu apakah sebuah perusahaan sehat atau tidak. Namun, guess what? Mereka itu rotten to the core. Busuk. Penuh dgn bias, konflik kepentingan, keserakahan, & korupsi. Kok bisa gitu?

  1. Ketika S&P me-rating, mereka dibayar oleh perusahaan yang mereka rating. Sesuai dengan baik atau tidaknya rating mereka.
  2. Moody’s : “We give you a rating. If you don’t like it, we won’t publish it. If you like it, you pay us up.”
  3. Perusahaan boleh memilih, kapan dan bgmn mereka akan dirating. Mereka boleh ngintip rating sebelum jadi. Mereka boleh protes kalau jelek.

Ini analogi yang lebih mudah. Bayangkan perusahaan yang akan dirating itu “murid”, dan rating agency itu “guru” :

  1. Murid membayar guru untuk membeli nilai dan ijazahnya sekalian. Nilai A harganya lebih mahal daripada B.
  2. Kalau murid lagi males ujian, murid membayar guru untuk menunda ujian sampe sang murid siap ujian.
  3. Murid bisa membayar guru untuk memilih ujian yang paling ia kuasai. Ujian menggambar aja misal. Yang lain ga usah diuji gpp.
  4. Setelah murid ujian, dia bisa ngintip ketika gurunya koreksi. Kalau ada yang salah, bisa dibenerin saat itu juga
  5. Kalau nilainya jelek, murid bisa protes. Bisa ujian ulang. Bisa juga bayar guru untuk ngasih nilai bagus.

Lalu keluarlah *jeng jeng* rating AAA untuk Lehman Brothers. Untuk Merrill Lynch. Untuk Fannie Mae. Untuk surat hutang Amerika #eh

Seperti yang Buffet katakan di gambar atas, satu-satunya cara agar rating agency itu bisa kita percaya adalah : kita (sebagai user rating) yang harus bayar untuk kegiatan rating tersebut. Bukan perusahaan. Bukan negara.

If you don’t pay. They will. And they will bend the rating in their favor.

Eh, kita juga punya lembaga rating. Namanya PEFINDO : Pemeringkat Efek Indonesia. Slogannya: Indonesia’s Most Trusted Credit Rating Agency. Bisakah mereka dipercaya?

Kultwit : Manajer Investasi Aja Kalah Sama Anak Kecil

sumber : audioeditions.com

Di artikel sebelumnya, saya berjanji untuk menceritakan sebuah kisah yang unik. Kisah mengenai bagaimana 2 orang anak kecil yang berhasil mengalahkan Manajer Investasi profesional. Kok bisa? Nah, ikuti kultwit saya tentang #randomwalk ya :

  1. Cerita ini dimulai dengan seorang Bapak dan dua orang anaknya yang hiperaktif di London, suatu malam natal tahun 1990.
  2. Sang bapak ini muak dengan prediksi saham para manajer investasi yang “sok tahu”. Dia memutuskan untuk menantang mereka.
  3. Sang bapak lalu membuka lebar halaman koran bisnis, bagian listing saham. Lalu, dia memberikan 20 buah pin pada kedua anak kecilnya, Zoe dan Oliver.
  4. Zoe dan Oliver diminta menancapkan secara acak 20 buah pin itu pada koran bisnis yang dibuka lebar bapaknya di lantai. 1 buah pin mewakili 1 saham.
  5. Dari situ, terpilih secara acak 20 saham “pilihan” Zoe dan Oliver. 20 Saham tadi dijadikan sebuah “reksadana” oleh Sang Bapak.
  6. Tidak selesai sampai di situ, “reksadana” Zoe dan Oliver ini dikirim ke rekannya yang bekerja di koran untuk dimuat.
  7. Mau tahu hasilnya? Ternyata reksadana Zoe dan Oliver memiliki performa di atas rata-rata manajer investasi di UK.
  8. Bahkan pernah reksadana Zoe dan Oliver menduduki peringkat top 5% di antara semua reksadana yang ada di UK. Sang Bapak berhasil membuktikan bahwa 2 anak kecilnya berhasil mengalahkan hampir semua manajer investasi di UK.

Sang Bapak adalah Tony Levene. Kolumnis untuk koran Guardian Money di London

Moral dari cerita ini adalah “saham itu bundar” #eh maksudnya, saham itu unpredictable. Tidak dapat diprediksi. Seperti yang saya singgung di artikel sebelumnya: Jangan mudah percaya Berita X, Teman Y, dan Pakar Saham Z. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Selain itu, Tidak ada yang punya Bola Kristal Ajaib. Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan. Kecuali Mama Lauren #eh

Saham / RD apapun yang Anda pilih itu baik, asal (1) terdiversifikasi (2) disimpan untuk jangka panjang. Jadi, ga usah pusing milih saham atau RD yang bagus. Lebih penting: mulailah invest dari sekarang. Tiap bulan. Disiplin.

PS : For the finance geeks out there, kultwit ini sebenarnya adalah pembuktian teori Random Walk yang diciptakan oleh Burton Malkiel. Sehingga (secara teoritis), analisis teknikal apapun tidak dapat membantu Anda memprediksi masa depan. Itu kenapa, 2 orang anak kecil dapat mengalahkan seorang manajer investasi yang dipersenjatai dengan segudang indikator dan 15 buah monitor.

Owh iya. Awal tahun 2011 ini A Random Walk Down Wall Street sudah keluar revised editionnya. Recommended bagi Anda yang skeptis dan masih penasaran dengan kisah dan statement saya di atas :D