Kultwit : Dengkul Itu Bukan Modal Yang Baik

Sumber : mdev.detik.com

Akhir-akhir ini saya merasa agak risih dengan “Investasi XXX modal dengkul”. XXX = emas, properti, bisnis, saham, reksadana, forex dan lain sebagainya.

Intinya, investasi modal dengkul ini membujuk Anda untuk berhutang demi berinvestasi, dengan tujuan mencapai potensi profit yang lebih tinggi. Dalam ragam investasi modal dengkul, potensi profit didapat dari selisih bunga hutang versus profit investasi ybs. Misal: Anda meminjam uang bank dengan bunga 15%, untuk dibelikan emas yang katanya retur minimal 20%. Anda untung 5%. Atau membeli properti dengan hutang untuk disewakan; cashflow sewa untuk menutupi cicilan hutang.

Saya setuju. Investasi modal dengkul bisa membuat Anda cepat kaya. Namun, bisa cepat kaya = bisa cepat miskin juga dunk :)

Dalam investasi, terdapat sebuah hukum pasti, sepasti hukum gravitasi : “Low Risk Low Return, High Risk High Return”. Kebanyakan skema modal dengkul ini hanya mengiming-imingi konsumen dengan retur, tanpa menjelaskan setinggi apa risk-nya.

“Loh, pak, banyak yang berhasil. Itu udah ada bukunya!” Ya iya lah. Yang ditulis di buku pasti kisah sukses. Kisah gagalnya? Anda tidak pernah heran? Kenapa di buku, brosur, dan media marketing modal dengkul lain yang dibahas hanya “skenario baik” saja? “Skenario buruk”-nya mana?

Di saat ekonomi kinclong seperti saat ini, banyak orang membuang “skenario buruk” dari kamus mereka. Oh, tidak bisaaa. Kenapa? Untuk bisa dikatakan ok, sebuah skema investasi harus bisa dijalankan dalam keadaan ekonomi baik DAN buruk.

Pernahkah Anda menghitung kredit emas Anda dengan “skenario buruk”? Ketika harga emas hanya naik sebatas inflasi? Atau turun? Pernahkah Anda memperhitungkan kemungkinan gagal bayar cicilan? Kalau Anda di PHK? Kalau ada keadaan darurat? Contoh lain adalah Reksadana modal dengkul. Bisa bisa aja. Tapi yang adil dunk skenarionya.

Dalam ilmu finance dan risk management, ada yang disebut dengan RAROC – Risk Adjusted Return On Capital. Artinya, profit yang kita proyeksikan harus dihitung ulang dengan memperhitungkan faktor resiko. Dalam hitungan RAROC tadi, kenaikan profit investasi modal dengkul biasanya selalu kalah kenaikan faktor resikonya.

Ketika Anda berinvestasi tanpa ngutang, Anda hanya akan menghadapi resiko kerugian (loss) investasi Anda. Namun, ketika Anda ngutang modal dengkul, Anda menghadapi resiko (1) kerugian investasi (2) pokok hutang dan (3) bunga hutang.

Silahkan direnungkan : If you invest with your “dengkul”, you’re risking your “dengkul” on the line. I hope you’ve prepared  a decent wheelchair. Bahasa jermannya : Kalau Anda siap berinvestasi dengan modal dengkul, Anda juga harus siap ngesot kalau dengkul Anda ilang :)

 

Kultwit : Bola Kristal Saya Lagi Ngambek

Ada yang japri saya, anggap saja Mr T,  untuk menanyakan “Mas, saham apa yang bagus ya?”

Me : “Maksudnya bagus?”

Mr. T : “Iya, yang bakal naik minggu depan”

Me : Sambil tertawa pahit, saya menjawab “Sebentar ya Mas, saya tanya bola kristal saya dulu”

Me : “Maaf Mas, Bola Kristal saya lagi ngambek. Tapi saya bisa memberikan advis sebagai financial planner, mau?”

Me : “Semua saham itu bagus, Mas”. Asal (1) terdiversifikasi dengan baik (2) disimpan untuk jangka waktu yang panjang.

Mr. T : “Wah kalau cuman begituan, saya juga udah katam”

Me : “Lah, memang cuman itu pedomannya mas. Time proven. Terbukti secara statistik.”

Jadi jangan tanya saya saham apa yang bakal naik besok. Saya bukan Mama #eh Papa Lauren. Saya tidak bisa baca masa depan.

Jangan juga percaya orang lain kalau dia bilang saham X bakal naik besok. Yakin deh, dia pasti juga ga punya Bola Kristal Ajaib http://bit.ly/ommKM2 Dan kalau misalnya dia punya Bola Kristal Ajaib, mana mau dia bagi-bagi ke Anda. Mending buat dia sendiri aja :D

Di kesempatan selanjutnya saya akan menceritakan bagaimana 2 orang anak kecil bisa mengalahkan seorang manajer investasi dalam memilih saham.

Gak percaya. Saya kasih hint ya : “Random Walk”. Penasaran? Tunggu tweet saya selanjutnya :D #randomwalk

Produk X, Si Pembunuh Deposito

Sumber : beta.matanews.com

Produk X itu adalah Reksadana Pasar Uang (RDPU).

Yuk saya jelaskan 1 per 1 kenapa RDPU lebih tinggi bunganya, lebih likuid, dan lebih aman daripada deposito.

1.  RDPU bunganya lebih tinggi daripada deposito.

Terakhir saya cek bunga deposito di Bank Mandiri adalah 5,25%. Masih dipotong pajak 20%. Bersihnya adalah 4,2%. Sedangkan bunga dari RDPU berkisar di antara 5 – 7% bebas pajak. Secara benchmark, biasanya bunga RDPU selalu 0,5 – 1% di atas deposito 1 M.

2. RDPU lebih likuid daripada deposito.

Deposito hanya dapat diambil di akhir periode. Selama itu, uang Anda “beku”. Padahal bisa saja, ada keadaan darurat maupun peluang investasi yang lebih baik datang menghampiri ada. Kalau Anda ambil, Anda kena penalti + bunga Anda hangus.

Tidak demikian dengan RDPU. Anda dapat mengambil kapan saja (hari dan jam kantor tentunya), tanpa biaya. Anda juga dapat menambahkan dana sesuka hati Anda. Seperti layaknya tabungan. Tapi dengan bunga lebih besar dari deposito.

3.  RDPU lebih aman daripada deposito.

Nah, ini yang agak panjang penjelasannya. Agak teknis juga. Jangan ketiduran ya? Please.

a. Salah satu komponen RDPU adalah Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI adalah instrumen finansial teraman di Indonesia. Karena dijamin langsung oleh BI (baca: pemerintah), serta jangka waktunya yang pendek. Kalau tiba-tiba terjadi resesi dan sistem finansial kolaps, maka negara akan memprioritaskan pembayaran hutang negara jangka pendek (SBI). SBI memiliki jaminan langsung pemerintah, tanpa batas nominal penjaminan, dan tanpa birokrasi yang rumit. SBI (hampir) tidak memiliki resiko gagal bayar atau hilang nominalnya. Sering juga disebut “Risk Free Investment”.

b. Bunga RDPU biasanya mengikuti inflasi. Sehingga uang Anda aman dari gerusan inflasi. Berbeda dengan emas yang kini menjadi bahan spekulasi, RDPU tidak demikian. Ini karena BI Rate, yang merupakan dasar rate (bunga) dari SBI, ditentukan oleh pemerintah berdasarkan inflasi dan keadaan ekonomi. Suku bunga deposito (dan tentu saja RDPU) akan mengikuti BI Rate.

c. Aset dalam RDPU disebar tidak hanya ke SBI, tetapi juga aset-aset aman lainnya, termasuk deposito itu sendiri. Prinsip diversifikasi bermain di sini. Don’t put all your eggs in one basket. Don’t put all your baskets in one table. Selain itu RDPU juga dijamin oleh Bank Kustodian. Sehingga tidak akan dibawa kabur sang Manajer Investasi.

Sekian penjelasan Produk X, yang akan membunuh deposito. Jadi, masih mau taruh uang di deposito? :)

 

 

Deposito is Dead!

sumber : http://princessaknight.blogspot.com/

Deposito (time deposit) adalah produk yang jelek. Tepatnya, deposito adalah salah satu produk perbankan paling jelek yang dapat Anda miliki.

Trus, kalau deposito jelek, yang bagus apa dunk Bro?

Terdapat satu produk finansial yang lebih besar keuntungannya, lebih likuid, dan lebih aman daripada deposito. Penasaran? Ikuti saya terus ya. Akan saya bandingkan deposito, dengan sang produk misterius, produk X.

  1. Produk X lebih besar keuntungannya (bunganya) daripada deposito 1 M.
  2. Produk X bebas pajak. Bunga dari deposito masih dipotong pajak bunga 20%.
  3. Produk X lebih likuid dari deposito. Produk X bisa diambil kapan saja tanpa penalti.
  4. Produk X lebih aman dari deposito. Karena salah satu komponen produk X adalah SBI (investasi teraman di Indonesia), dan deposito itu sendiri.
  5. Produk X lebih aman dari deposito. Produk X disebar (diversifikasi) ke berbagai instrumen. Deposito tidak.
  6. Jaminan pemerintah terhadap deposito hanya sampai 500 juta. Produk X tidak terbatas.
  7. Pengelolaan Produk X dapat Anda pantau tiap bulannya. Di deposito Anda tidak tahu uang Anda dipakai untuk apa.

Penasaran Produk X itu apa? Akan saya buka di artikel selanjutnya :D

Kultwit : Trading Itu Berbahaya

Berikut adalah arsip kultwit saya seputar bahaya trading:

  1. Sebagai Wealth Manager, saya selalu menganjurkan klien saya untuk menjauhi daytrading: jual beli saham dalam waktu pendek.
  2. Banyak kisah trader sukses yang bisa kaya mendadak. Bahkan banyak yang mendokumentasikan pengalamannya secara bombastis dalam buku.
  3. Ada pedoman dalam dunia investasi: “high risk high return”. Bisa kaya mendadak, so pasti bisa miskin mendadak donk.
  4. Selain itu, tiap kali Anda melakukan jual beli, Anda akan dikenai biaya oleh broker. Semakin sering, semakin besar uang Anda digerogoti.
  5. Ketika Anda melakukan trading, Anda bekerja aktif untuk mencari uang. Bukankah lebih baik membiarkan uang yang bekerja untuk Anda?
  6. Trading juga lebih mengarah ke aktivitas spekulasi. Anda bertaruh perubahan harga jangka pendek. Mirip “nanti malam Arsenal menang apa kalah?”.
  7. Plus, trading itu adalah fulltime job. Bahkan sebagai ibu rumah tangga pun, Anda kan punya kewajiban mengurus anak dan suami bukan?
  8. Belum lagi stress nya kalau Anda loss dalam aktivitas trading Anda, atau tidur Anda juga jadi ga nyenyak. Dihitung loh itu biayanya.
  9. Dan kultwit dari @pakarsaham mengkonfirmasi kekhawatiran saya “90% trader hny sampai pd level ini,mereka biasanya kapok,berhenti trading”
  10. Sehingga, kecuali Anda memang serius, komit 100%, menjadikan trading sebagai jalan hidup Anda, stay away from trading.
  11. Ini contoh trader yang memang benar-benar serius : http://bit.ly/p8EHEt . Siapkah Anda memiliki komitmen semacam itu?