Buku Investasi Simsalabim dan Tingkat Kedewasaan Investor

Pernahkah Anda mengunjungi pojok buku investasi di sebuah toko buku? Saya yakin Anda pasti dapat menemukan banyak judul buku ‘ajaib’. Buku “Jurus Investasi Simsalabim”. Seperti yang ada di bawah ini :

Nah, reaksi Anda terhadap buku di atas adalah indikator tingkat kedewasaan Anda sebagai seorang investor. Total ada 5 tingkat. Anda ada di tingkat berapa?

  1. Reaksi investor tingkat 1 : Tidak Perduli
    Anda bukan investor. Istilah investasi asing di telinga Anda. Bagi Anda kalau mau kaya ya kerja yang rajin.
  2. Reaksi investor tingkat 2 : Antusias
    Anda baru sadar pentingnya investasi. Sedang semangat-semangatnya. Orang jadi kaya karena investasi. Anda borong buku tadi. 1 buku habis dalam 1 malam.
  3. Reaksi investor tingkat 3  : Marah
    Anda sudah mencoba Jurus Investasi Simsalabim tadi dan gagal. Anda marah dan menanggap buku tadi adalah penipuan. Anda jadi lebih bijak dan berhati-hati.
  4. Reaksi investor tingkat 4  : Tertawa Geli
    Anda sudah lebih ahli dalam berinvestasi. Anda sudah tahu banyak instrumen investasi yang ‘benar’. Anda mentertawakan investor level 2 yang memborong buku tersebut.
  5. Reaksi investor tingkat 5  : Senyum Penuh Arti
    Anda sudah sangat ahli dalam berinvestasi. Anda memutuskan untuk menulis buku yang dapat mematahkan Jurus Investasi Simsalabim.

Judul buku yang Anda tulis : “Jurus Investasi Abrakadabra

Anda Mau Kaya? Stop Makan Krupuk!

sumber : http://www.flickr.com/photos/dessertcomesfirst/1190357301/

Anda tiap kali makan harus pakai krupuk. 2 biji @ 500 perak. 3 kali sehari.

Coba deh, Anda makan tanpa krupuk. Anda bisa menghemat 6 krupuk per hari : 3000 perak. Anda invest ke dalam Reksadana Saham dengan asumsi retur 25% setahun. Dalam 40 tahun kerupuk Anda jadi 108,9 Milyar Rupiah.

Contoh di atas adalah simulasi sederhana dari The Latte Factor. The Latte Factor adalah pengeluaran kecil sehari-hari yang tidak pernah kita ambil pusing : ngopi, jajan, beli rokok, permen, krupuk dan sebagainya. Namun, justru pengeluaran kecil semacam inilah yang bisa mencegah kita menjadi kaya. Berikut contoh simulasi lainnya :

Anda tiap minggu punya ritual nonton ke XXI bersama kekasih. Habis 60 ribu. Coba deh kurangi 2 minggu sekali. Ga berat kan? Dengan nonton hanya 2 minggu sekali Anda bisa berhemat 120 ribu / bulan. Uang itu Anda invest ke RDS. Dalam 40 tahun akan jadi 114 Milyar Rupiah

Dan contoh paling klasik : rokok. Harusnya ga berat kan, kalau dalam sehari Anda mengurangi 2 batang rokok saja. Sukur-sukur kalau bisa mengurangi 1 pak rokok. Ini itungannya :

  1. Dengan mengurangi 2 batang rokok, Anda bisa berhemat 2000 perak sehari. Dalam 40 tahun Anda akan mengantongi 72 Milyar Rupiah.
  2. Kalau yang dulunya 1 hari 2 pak, kurangi jadi 1 pak. Hemat 10 ribu/hari. Dalam 40 tahun Anda akan punya 363 Milyar Rupiah

Belum lagi hidup Anda akan jadi lebih sehat. Yang berarti penghematan ongkos kesehatan dan produktivitas kerja yang lebih besar lagi. You’ll live healthier and richer.

Simulasi ini juga bisa Anda terapkan bagi Anda yang rajin ngafe atau ke mall tiap minggu, getol minjem VCD, hobi makan di luar, dan senang jajan gorengan.

Kalau dilacak ke local wisdom kita, Latte Factor ini sudah mengakar loh di budaya nenek moyang kita. Perkawinan antara “Sedikit-Sedikit Menjadi Bukit” dan “Hemat Pangkal Kaya”.

Jadi kalau Anda ingin kaya : jangan makan krupuk #eh ; maksudnya berhematlah dari hal-hal yang kecil :)

Kultwit: Apakah Bank Tempat Teraman Menyimpan Uang?

Berikut adalah arsip kultwit saya seputar tempat teraman menyimpan uang Anda di Indonesia. Penting banget sih mbahas ini? Iya, pengetahuan ini penting kalau-kalau resesi ekonomi di US, Eropa (dan juga China) sampai ke Indonesia. Kultwit ini sekaligus sebagai penguat argumen artikel Deposito is Dead : “Apakah memang, deposito dan tabungan Anda aman di Bank?” Yuk kita mulai :

  1. Kalau Anda menduga tabungan dan deposito di Bank itu paling aman, Anda salah. Emang Bank ga bisa bangkrut? Total ada 66 bank yang bangkrut krisis 1998 lalu.
  2. Istilahnya macem-macem: Bank Dalam Likuidasi (BDL), Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU), atau Bank Beku Operasi (BBO). Intinya: bangkrut.
  3. Dan ukuran ga menjamin keamanan loh. Buktinya Lehmann Brothers, Bear Sterns, dan Merrill Lynch aja bisa bubar
  4. Size doesn’t matter, rating doesn’t matter too. Namun, seberapa banyak suatu Bank terpapar ke aset-aset beresiko.
  5. Ok, ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kalau bank bangkrut. Tapi LPS pun juga punya banyak keterbatasan. Yuk kita bahas satu-satu.
  6. Pertama, dalam keadaan ekonomi baik, duit Anda bisa balik. Tapi dalam keadaan ekonomi baik, emang ada bank yang bangkrut?
  7. Dalam keadaan ekonomi resesi, bank bisa bangkrut. Bisa banget. Dan ga cuman satu atau dua. Semua bank bisa terancam bangkrut.
  8. Masih ingat kasus Bank Century – yang kalau tidak ditebus dampaknya “sistemik”. Itu padahal cuman bank kecil loh.
  9. Istilah sistemik disini mengacu pada efek gelombang kebangkrutannya ke bank-bank lain. Padahal ekonomi kita lagi baik loh.
  10. Hal itu terjadi karena bank-bank dan sistem finansial kita (dan dunia sebenernya), terkait erat satu sama lain.
  11. Dalam kondisi resesi, ga mungkin pemerintah bisa nebus 66 bank yang bangkrut. Duit dari mana?
  12. Kedua, nominal penjaminan LPS sudah diturunkan dari Rp 2 M ke Rp 500 juta saja per nama nasabah.
  13. Jangan bayangkan 500 juta akan keluar gitu aja. Masih ingat istilah BBKL dan BBO? Itu itungannya cuman “dibekukan” loh.
  14. LPS hanya akan mengganti uang bank berstatus BDL (Bank Dalam Likuidasi). “Dibekukan”? Oh tidak bisaaa.
  15. Jadi bisa saja, bank udah bubar, tapi statusnya hanya “dibekukan” oleh pemerintah. Nah loh? Gimana tuh duit Anda.
  16. Dalam kondisi resesi, untuk mencegah kebocoran dana penjaminan, tidak semua bank yang bangkrut akan dilabeli BDL.
  17. Untuk Bank yang “dibekukan”, duit Anda juga ikut “dibekukan”. Sampai jangka waktu yang belum pasti. Mau makan pake apa kita?
  18. Udah tau resesi, ekonomi sulit, butuh duit, eh tabungan dan deposito satu-satunya malah “dibekukan”. Sudah jatuh tertimpa tangga.
  19. Dan untuk Bank yang berhasil mendapat status BDL, duitnya pun ga keluar langsung. Dicicil cuy. Kayak Lapindo gitu.

Jadi dana tabungan dan deposito Anda yang sebenarnya “dijamin” itu sebenarnya ada embel-embelnya: “tergantung situasi” :D

Trus gimana dunk? Tempat mana yang paling aman buat naruh duit pas resesi. Stay tuned ya!

Kultwit : Bail-Out Mu Itu Palsu, Cyin!

Sumber : allrightmagazine.com

China akan menyelamatkan Italia yang diambang krisis. Membeli hutang-hutang busuknya. Saham seluruh dunia naik.

Menurut saya, hal ini adalah tindakan plg bodoh yang bs dilakukan oleh China : membawa krisis Eropa langsung ke jantung perekonomian Asia. Efeknya buat Indonesia apa? Kalau Eropa kolaps, China kolaps. China kolaps, efeknya ke kita besar bgt. Berapa barang Anda yang ‘Made in China’?

Harusnya negara-negara yang lagi sakit itu jangan disuntik narkoba dunk. Gak memecahkan masalah. Mereka harus niat bangkit sendiri. Naik turunnya ekonomi itu siklus alam. No goverment can stop the march of time, fool Mother Nature, or repeal the law of gravity.

Kata kunci utk menyelamatkan negara penuh hutang itu bukan “BAIL-OUT”. The one and only keyword is : “AUSTERITY” (baca: Tobat Maksiat). ”Bail-out” itu tidak pernah menyelesaikan masalah dan hanya menimbulkan Moral Hazard : “Ah, emang kenapa kalau gw jalannya ngawur? Maksiat? Sebodo amit. Santai aje. Nanti juga ada yang nolong.”. Plus, biasanya, setelah ditolong, mereka bukan tobat, tapi tambah nekat.

Yunani pun begitu. Maksiat mereka adalah : praktek akuntansi yang “kreatif”. Simsalabim. Tau-tau nambah digit di atas laporan. Dan lucunya : mereka memohon-mohon minjem uang dr Jerman. Untuk apa coba tebak? Bayar utang mereka ke Jerman juga #kemudianHening

Sehingga “bail-out” itu haram ya tweeps. Jadi, ingat lain kali kalau ada kejadian bail-out trus saham naik: Oh, itu palsu. Sungguh palsu.

Kultwit : Manajer Investasi Aja Kalah Sama Anak Kecil

sumber : audioeditions.com

Di artikel sebelumnya, saya berjanji untuk menceritakan sebuah kisah yang unik. Kisah mengenai bagaimana 2 orang anak kecil yang berhasil mengalahkan Manajer Investasi profesional. Kok bisa? Nah, ikuti kultwit saya tentang #randomwalk ya :

  1. Cerita ini dimulai dengan seorang Bapak dan dua orang anaknya yang hiperaktif di London, suatu malam natal tahun 1990.
  2. Sang bapak ini muak dengan prediksi saham para manajer investasi yang “sok tahu”. Dia memutuskan untuk menantang mereka.
  3. Sang bapak lalu membuka lebar halaman koran bisnis, bagian listing saham. Lalu, dia memberikan 20 buah pin pada kedua anak kecilnya, Zoe dan Oliver.
  4. Zoe dan Oliver diminta menancapkan secara acak 20 buah pin itu pada koran bisnis yang dibuka lebar bapaknya di lantai. 1 buah pin mewakili 1 saham.
  5. Dari situ, terpilih secara acak 20 saham “pilihan” Zoe dan Oliver. 20 Saham tadi dijadikan sebuah “reksadana” oleh Sang Bapak.
  6. Tidak selesai sampai di situ, “reksadana” Zoe dan Oliver ini dikirim ke rekannya yang bekerja di koran untuk dimuat.
  7. Mau tahu hasilnya? Ternyata reksadana Zoe dan Oliver memiliki performa di atas rata-rata manajer investasi di UK.
  8. Bahkan pernah reksadana Zoe dan Oliver menduduki peringkat top 5% di antara semua reksadana yang ada di UK. Sang Bapak berhasil membuktikan bahwa 2 anak kecilnya berhasil mengalahkan hampir semua manajer investasi di UK.

Sang Bapak adalah Tony Levene. Kolumnis untuk koran Guardian Money di London

Moral dari cerita ini adalah “saham itu bundar” #eh maksudnya, saham itu unpredictable. Tidak dapat diprediksi. Seperti yang saya singgung di artikel sebelumnya: Jangan mudah percaya Berita X, Teman Y, dan Pakar Saham Z. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Selain itu, Tidak ada yang punya Bola Kristal Ajaib. Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan. Kecuali Mama Lauren #eh

Saham / RD apapun yang Anda pilih itu baik, asal (1) terdiversifikasi (2) disimpan untuk jangka panjang. Jadi, ga usah pusing milih saham atau RD yang bagus. Lebih penting: mulailah invest dari sekarang. Tiap bulan. Disiplin.

PS : For the finance geeks out there, kultwit ini sebenarnya adalah pembuktian teori Random Walk yang diciptakan oleh Burton Malkiel. Sehingga (secara teoritis), analisis teknikal apapun tidak dapat membantu Anda memprediksi masa depan. Itu kenapa, 2 orang anak kecil dapat mengalahkan seorang manajer investasi yang dipersenjatai dengan segudang indikator dan 15 buah monitor.

Owh iya. Awal tahun 2011 ini A Random Walk Down Wall Street sudah keluar revised editionnya. Recommended bagi Anda yang skeptis dan masih penasaran dengan kisah dan statement saya di atas :D