Reksadana Saham Terbaik Versi Majalah Investor

Masih ingat artikel saya sebelumnya seputar Reksadana Terbaik Versi Infovesta? Pesan saya adalah : “jangan telan mentah-mentah”. Nanti nyangkut di tenggorokan. Ada banyak versi rating di luar sana.

Versi yang ingin saya share kali ini adalah dari Majalah Investor. Untuk memberikan penilaian yang lebih adil, RDS tidak hanya dinilai dari pencapaian retur saja, tetapi juga risk, jumlah dana kelolaan, pertumbuhan unit penyertaan, likuiditas, kualitas portofolio, dan struktur biaya.

Rating saya kutip dari Majalah Investor edisi Maret 2009, Maret 2010, dan Maret 2011 untuk periode 7, 5, 3, dan 1 tahun. Berikut ratingnya :

Reksadana Saham Terbaik Periode 7 Tahun :

No 2009 2010 2011
1 Schroder Dana Prestasi Plus Panin Dana Maksima Panin Dana Maksima
2 Fortis Pesona Si Dana Saham BNP Paribas Pesona
3 Fortis Ekuitas Phinisi Dana Saham Schroder Dana Prestasi Plus
4 Si Dana Saham Bahana Dana Prima BNP Paribas Ekuitas
5 Panin Dana Maksima Danareksa Mawar Manulife Dana Saham

Reksadana Saham Terbaik Periode 5 Tahun :

No 2009 2010 2011
1 Fortis Pesona Fortis Pesona Panin Dana Maksima
2 Schroder Dana Prestasi Plus Fortis Ekuitas BNP Paribas Pesona
3 Manulife Dana Saham Schroder Dana Prestasi Plus Schroder Dana Istimewa
4 Fortis Ekuitas Manulife Dana Saham Schroder Dana Prestasi Plus
5 Si Dana Saham Panin Dana Maksima BNP Paribas Ekuitas

Reksadana Saham Terbaik Periode 3 Tahun :

No 2009 2010 2011
1 Fortis Ekuitas Schroder Dana Prestasi Plus Panin Dana Maksima
2 Manulife Dana Saham Fortis Ekuitas Schroder Dana Istimewa
3 Schroder Dana Prestasi Plus Fortis Pesona Manulife Saham Andalan
4 Fortis Pesona Manulife Dana Saham BNP Paribas Pesona
5 Panin Dana Maksima FSIE Sectoral Fund Manulife Dana Saham

Reksadana Saham Terbaik Periode 1 Tahun :

No 2009 2010 2011
1 Manulife Dana Saham Manulife Saham Andalan Panin Dana Maksima
2 Schroder Dana Prestasi Plus Fortis Ekuitas Schroder Dana Istimewa
3 Panin Dana Maksima Fortis Pesona BNP Paribas Ekuitas
4 Simas Danamas Saham Manulife Dana Saham Manulife Saham Andalan
5 Fortis Ekuitas Schroder Dana Prestasi Plus BNP Paribas Pesona

Ingat sekali lagi : “jangan ditelan mentah-mentah”. Do your own research. Jangan lupa bahwa rating = marketing. Bentuk iklan yang relatif lebih ‘halus’. Selamat berinvestasi.

Anda Mau Kaya? Stop Makan Krupuk!

sumber : http://www.flickr.com/photos/dessertcomesfirst/1190357301/

Anda tiap kali makan harus pakai krupuk. 2 biji @ 500 perak. 3 kali sehari.

Coba deh, Anda makan tanpa krupuk. Anda bisa menghemat 6 krupuk per hari : 3000 perak. Anda invest ke dalam Reksadana Saham dengan asumsi retur 25% setahun. Dalam 40 tahun kerupuk Anda jadi 108,9 Milyar Rupiah.

Contoh di atas adalah simulasi sederhana dari The Latte Factor. The Latte Factor adalah pengeluaran kecil sehari-hari yang tidak pernah kita ambil pusing : ngopi, jajan, beli rokok, permen, krupuk dan sebagainya. Namun, justru pengeluaran kecil semacam inilah yang bisa mencegah kita menjadi kaya. Berikut contoh simulasi lainnya :

Anda tiap minggu punya ritual nonton ke XXI bersama kekasih. Habis 60 ribu. Coba deh kurangi 2 minggu sekali. Ga berat kan? Dengan nonton hanya 2 minggu sekali Anda bisa berhemat 120 ribu / bulan. Uang itu Anda invest ke RDS. Dalam 40 tahun akan jadi 114 Milyar Rupiah

Dan contoh paling klasik : rokok. Harusnya ga berat kan, kalau dalam sehari Anda mengurangi 2 batang rokok saja. Sukur-sukur kalau bisa mengurangi 1 pak rokok. Ini itungannya :

  1. Dengan mengurangi 2 batang rokok, Anda bisa berhemat 2000 perak sehari. Dalam 40 tahun Anda akan mengantongi 72 Milyar Rupiah.
  2. Kalau yang dulunya 1 hari 2 pak, kurangi jadi 1 pak. Hemat 10 ribu/hari. Dalam 40 tahun Anda akan punya 363 Milyar Rupiah

Belum lagi hidup Anda akan jadi lebih sehat. Yang berarti penghematan ongkos kesehatan dan produktivitas kerja yang lebih besar lagi. You’ll live healthier and richer.

Simulasi ini juga bisa Anda terapkan bagi Anda yang rajin ngafe atau ke mall tiap minggu, getol minjem VCD, hobi makan di luar, dan senang jajan gorengan.

Kalau dilacak ke local wisdom kita, Latte Factor ini sudah mengakar loh di budaya nenek moyang kita. Perkawinan antara “Sedikit-Sedikit Menjadi Bukit” dan “Hemat Pangkal Kaya”.

Jadi kalau Anda ingin kaya : jangan makan krupuk #eh ; maksudnya berhematlah dari hal-hal yang kecil :)

Reksadana Terbaik Per Januari 2011 Versi Infovesta

Karena link andalan saya mati, maka saya putuskan untuk copas sendiri di sini. Rating ini merupakan rating Infovesta berasal dari Majalah Kontan Edisi Khusus yang terbit bulan Januari 2011. Sebagai investor yang cerdas, Anda tidak boleh menelan rating ini mentah-mentah. Ingat, ini hanya merupakan salah satu versi, dari sekian banyak rating reksadana di luar sana.

Reksadana Saham

Nama Reksadana Rating
Panin Dana Maksima 5
Panin Dana Prima 5
Schroder Dana Istimewa 4.5
Reksa Dana Grow 2 Prosper 4.5
Batavia Dana Saham 4.5
Pratama Saham 4
Syailerndra Equity Opportunity Fund 4
Manulife Saham Andalan 4
Schroder Dana Prestasi Plus 4
GMT Dana Ekuitas 4

 

Reksadana Campuran Terbaik 1 Tahun (31 Januari 2010 – 31 Januari 2011)

Nama Reksadana Rating
Panin Dana Bersama 5
Panin Dana Unggulan 5
Reksadana Gani Flexi Fund 5
Semesta Dana Maxima 4.5
Reksadana Keraton 4.5
Prospera Balance 4.5
Big Bhakti Kombinasi 4.5
Syailendra Balance Opportunity Fund 4.5
Danamas Fleksi 4.5
Reksadana Pacific Balance Fund 4.5

 

Reksadana Campuran 3 Tahun (31 Januari 2008 – 31 Januari 2011)

Nama Reksadana Rating
Semesta Dana Maxima 5
Panin Dana Unggulan 5
Danamas Fleksi 5
Reksadana Keraton 5
BNP Paribas Equitra 4.5
Schroder Dana Terpadu II 4.5
Schroder Dana Prestasi 4.5
Manulife Dana Tumbuh Berimbang 4.5
Danareksa Anggrek Fleksibel 4
SAM Dana Berkembang 4

 

Reksadana Pendapatan Tetap 1 Tahun (31 Januari 2010 – 31 Januari 2011)

Nama Reksadana Rating
Danamas Stabil 5
BIG Dana Muamalah 5
GMT Dana Pasti 2 5
I – Hajj Syariah Fund 4.5
BIG Dana Likuid Satu 4.5

 

Reksadana Pendapatan Tetap 3 Tahun (31 Januari 2008 – 31 Januari 2011)

Nama Reksadana Rating
Danamas Stabil 5
Prospera Obligasi 4.5
Simas Danamas Mantap 4.5
BIG Dana Likuid Satu 4.5
BIG Dana Muamalah 4.5

 

Reksadana Pasar Uang 1 Tahun (31 Januari 2010 – 31 Januari 2011)

Nama Reksadana Rating
AAA Money Market Fund 5
Trim Kas 2 5
BIG Dana Lancar 5
Batavia Dana Kas Maksima 4.5
Mandiri Investa Pasar Uang 4
Mega Dana Kas 4
NISP Dana Siaga 4
Danareksa Gebyar Dana Likuid 4
Danareksa Seruni Pasar Uang II 4
Danamas Rupiah Plus 4

 

Reksadana Pasar Uang 3 Tahun (31 Januari 2008 – 31 Januari 2011)

Nama Reksadana Rating
Big Dana Lancar 5
Batavia Dana Kas Maxima 5
Mandiri Investa Pasar Uang 5
Danareksa Gebyar Dana Likuid 4
Mega Dana Kas 4
AAA Money Market Fund 4
NISP Dana Siaga 4
Nikko Kas Management 4
Danamas Rupiah Plus 3.5
Schroder Dana Likuid 3.5

 

Kultwit : Dengkul Itu Bukan Modal Yang Baik

Sumber : mdev.detik.com

Akhir-akhir ini saya merasa agak risih dengan “Investasi XXX modal dengkul”. XXX = emas, properti, bisnis, saham, reksadana, forex dan lain sebagainya.

Intinya, investasi modal dengkul ini membujuk Anda untuk berhutang demi berinvestasi, dengan tujuan mencapai potensi profit yang lebih tinggi. Dalam ragam investasi modal dengkul, potensi profit didapat dari selisih bunga hutang versus profit investasi ybs. Misal: Anda meminjam uang bank dengan bunga 15%, untuk dibelikan emas yang katanya retur minimal 20%. Anda untung 5%. Atau membeli properti dengan hutang untuk disewakan; cashflow sewa untuk menutupi cicilan hutang.

Saya setuju. Investasi modal dengkul bisa membuat Anda cepat kaya. Namun, bisa cepat kaya = bisa cepat miskin juga dunk :)

Dalam investasi, terdapat sebuah hukum pasti, sepasti hukum gravitasi : “Low Risk Low Return, High Risk High Return”. Kebanyakan skema modal dengkul ini hanya mengiming-imingi konsumen dengan retur, tanpa menjelaskan setinggi apa risk-nya.

“Loh, pak, banyak yang berhasil. Itu udah ada bukunya!” Ya iya lah. Yang ditulis di buku pasti kisah sukses. Kisah gagalnya? Anda tidak pernah heran? Kenapa di buku, brosur, dan media marketing modal dengkul lain yang dibahas hanya “skenario baik” saja? “Skenario buruk”-nya mana?

Di saat ekonomi kinclong seperti saat ini, banyak orang membuang “skenario buruk” dari kamus mereka. Oh, tidak bisaaa. Kenapa? Untuk bisa dikatakan ok, sebuah skema investasi harus bisa dijalankan dalam keadaan ekonomi baik DAN buruk.

Pernahkah Anda menghitung kredit emas Anda dengan “skenario buruk”? Ketika harga emas hanya naik sebatas inflasi? Atau turun? Pernahkah Anda memperhitungkan kemungkinan gagal bayar cicilan? Kalau Anda di PHK? Kalau ada keadaan darurat? Contoh lain adalah Reksadana modal dengkul. Bisa bisa aja. Tapi yang adil dunk skenarionya.

Dalam ilmu finance dan risk management, ada yang disebut dengan RAROC – Risk Adjusted Return On Capital. Artinya, profit yang kita proyeksikan harus dihitung ulang dengan memperhitungkan faktor resiko. Dalam hitungan RAROC tadi, kenaikan profit investasi modal dengkul biasanya selalu kalah kenaikan faktor resikonya.

Ketika Anda berinvestasi tanpa ngutang, Anda hanya akan menghadapi resiko kerugian (loss) investasi Anda. Namun, ketika Anda ngutang modal dengkul, Anda menghadapi resiko (1) kerugian investasi (2) pokok hutang dan (3) bunga hutang.

Silahkan direnungkan : If you invest with your “dengkul”, you’re risking your “dengkul” on the line. I hope you’ve prepared  a decent wheelchair. Bahasa jermannya : Kalau Anda siap berinvestasi dengan modal dengkul, Anda juga harus siap ngesot kalau dengkul Anda ilang :)

 

Produk X, Si Pembunuh Deposito

Sumber : beta.matanews.com

Produk X itu adalah Reksadana Pasar Uang (RDPU).

Yuk saya jelaskan 1 per 1 kenapa RDPU lebih tinggi bunganya, lebih likuid, dan lebih aman daripada deposito.

1.  RDPU bunganya lebih tinggi daripada deposito.

Terakhir saya cek bunga deposito di Bank Mandiri adalah 5,25%. Masih dipotong pajak 20%. Bersihnya adalah 4,2%. Sedangkan bunga dari RDPU berkisar di antara 5 – 7% bebas pajak. Secara benchmark, biasanya bunga RDPU selalu 0,5 – 1% di atas deposito 1 M.

2. RDPU lebih likuid daripada deposito.

Deposito hanya dapat diambil di akhir periode. Selama itu, uang Anda “beku”. Padahal bisa saja, ada keadaan darurat maupun peluang investasi yang lebih baik datang menghampiri ada. Kalau Anda ambil, Anda kena penalti + bunga Anda hangus.

Tidak demikian dengan RDPU. Anda dapat mengambil kapan saja (hari dan jam kantor tentunya), tanpa biaya. Anda juga dapat menambahkan dana sesuka hati Anda. Seperti layaknya tabungan. Tapi dengan bunga lebih besar dari deposito.

3.  RDPU lebih aman daripada deposito.

Nah, ini yang agak panjang penjelasannya. Agak teknis juga. Jangan ketiduran ya? Please.

a. Salah satu komponen RDPU adalah Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI adalah instrumen finansial teraman di Indonesia. Karena dijamin langsung oleh BI (baca: pemerintah), serta jangka waktunya yang pendek. Kalau tiba-tiba terjadi resesi dan sistem finansial kolaps, maka negara akan memprioritaskan pembayaran hutang negara jangka pendek (SBI). SBI memiliki jaminan langsung pemerintah, tanpa batas nominal penjaminan, dan tanpa birokrasi yang rumit. SBI (hampir) tidak memiliki resiko gagal bayar atau hilang nominalnya. Sering juga disebut “Risk Free Investment”.

b. Bunga RDPU biasanya mengikuti inflasi. Sehingga uang Anda aman dari gerusan inflasi. Berbeda dengan emas yang kini menjadi bahan spekulasi, RDPU tidak demikian. Ini karena BI Rate, yang merupakan dasar rate (bunga) dari SBI, ditentukan oleh pemerintah berdasarkan inflasi dan keadaan ekonomi. Suku bunga deposito (dan tentu saja RDPU) akan mengikuti BI Rate.

c. Aset dalam RDPU disebar tidak hanya ke SBI, tetapi juga aset-aset aman lainnya, termasuk deposito itu sendiri. Prinsip diversifikasi bermain di sini. Don’t put all your eggs in one basket. Don’t put all your baskets in one table. Selain itu RDPU juga dijamin oleh Bank Kustodian. Sehingga tidak akan dibawa kabur sang Manajer Investasi.

Sekian penjelasan Produk X, yang akan membunuh deposito. Jadi, masih mau taruh uang di deposito? :)